6 Fakta UU Kewarganegaraan Anti Islam di India yang Menuai Aksi Protes

Kebebasan untuk dapat melangsungkan kehidupan dengan berakidahkan Islam sepertinya tengah marak dibatasi oleh negara-negara tertentu. Belum kering airmata kita melihat penderitaan umat muslim di Palestina, penyiksaan terhadap umat muslim di Uygur pun terjadi.

Tak cukup hanya itu, Undang-Undang Kewarganegaraan yang baru saja disahkan oleh Perdana Menteri India Narendra Modi pada tanggal 11 Desember 2019 dan telah ditandatangani oleh Presiden India Ram Nath Kovind pada tanggal 12 Desember 2019 menuai kontroversi. Warga muslim di India menilai UU tersebut diskriminatif terhadap Islam.

Narendra Modi berdalih dengan mengatakan bahwa UU tersebut bertujuan untuk ketenangan warga negara, dan untuk memelihara perdamaian, persatuan, dan persaudaraan. Modi mengatakan warga India tidak perlu khawatir dengan penerapan UU Kewarganegaraan yang telah ditandatangani, karena hanya akan diterapkan pada orang-orang yang menghadapi persekusi selama bertahun-tahun di luar negaranya dan tidak memiliki tempat lain selain India.

Warga muslim India mempermasalahkan UU tersebut karena hanya menawarkan kewarganegaraan kepada migran non muslim di Pakistan, Bangladesh, dan Afghanistan jika mereka menghadapi persekusi agama.

Suasana aksi protes warga India menentang UU Kewarganegaraan yang dinilai diskriminatif terhadap Islam. (Dok. Istimewa)
Suasana aksi protes warga India menentang UU Kewarganegaraan yang dinilai diskriminatif terhadap Islam. (Dok. Istimewa)

Kronologi Kerusuhan Pasca UU Kewarganegaraan India Disahkan Parlemen

Menanggapi UU tersebut, para mahasiswa dari Universitas Jamia Millia Islamia di Delhi melakukan pawai yang akhirnya berujung bentrok dengan pihak kepolisian. Tak bisa dipastikan penyebab kerusuhannya. Menurut media setempat mengatakan para demonstran melakukan pelemparan batu ke arah polisi yang dibalas dengan semprotan gas airmata. Kejadian ini menyebabkan 60 orang luka-luka, baik dari pihak demonstran, dan juga dari pihak kepolisian. Setidaknya ada 3 bus yang dibakar pada aksi ini dan beberapa sepeda motor.

Pihak demonstran mengklarifikasi bahwa ada para preman setempat yang menjadi provokator kerusuhan, para perwira polisi setempat pun mengakuinya.

Imbas dari kejadian ini, pihak kepolisian melanjutkan bentrok dengan memasuki lingkungan kampus tanpa izin, kemudian melakukan penyerangan fisik kepada para staf dan mahasiswa. Pihak kepolisian membela tindakannya dengan mengklaim bahwa para mahasiswa di kampus ini sebagai dalang dari aksi protes yang tengah berkecamuk hingga hari ini pada beberapa kota di India, Rabu (18/12/2019).

Suasana aksi protes warga India menentang UU Kewarganegaraan yang dinilai diskriminatif terhadap Islam. (Dok. Istimewa)
Suasana aksi protes warga India menentang UU Kewarganegaraan yang dinilai diskriminatif terhadap Islam. (Dok. Istimewa)

Aksi Protes Mahasiswa Universitas Jamia Millia Islamia Delhi Mendapat Dukungan

Aksi protes dari mahasiswa di Universitas Jamia Millia Islamia ini mendapat dukungan dari para mahasiswa dari kampus-kampus di berbagai kota di India, termasuk ibukota Delhi. Bentrok antara pihak kepolisian India dengan para demonstran pun masih terus berlanjut hingga hari ini, Rabu (18/12/2019). Seperti di bagian utara dan timur India, sejak UU tersebut disetujui oleh parlemen. Dalam masa enam hari unjuk rasa, telah memakan enam korban jiwa.

Sebagian warga negara menilai UU itu anti muslim, sementara itu sebagiannya lagi mencemaskan terjadinya migrasi besar-besaran ke India.

Situasi terkini, para demonstran di Bengal Barat memblokir jalur tol nasional. Sementara itu di Assam, pemerintah negara bagian setempat mencabut jam malam untuk sementara, agar masyarakat dapat membeli kebutuhan pokok.

Aksi unjuk rasa diperkirakan akan terus berlanjut di Bengal Barat, Delhi, dan beberapa negara bagian lainnya di bagian timur laut India, pada Rabu (18/12).

Para demonstran telah mengajukan beberapa tuntutan melalui petisi ke Mahkamah Konstitusi India pada Senin (16/12) agar UU Kewarganegaraan yang baru dikeluarkan tersebut dicabut.

Imbas dari situasi ini, pemerintah Inggris, Amerika Serikat, dan Kanada telah mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warga mereka yang berkunjung ke bagian timur laut India. Peringatan itu menegaskan pada mereka, agar ‘waspada’.

Sekolah-sekolah yang berada di dekat kampus di selatan Delhi telah diinstruksikan untuk menghentikan kegiatan belajar-mengajar pada Senin (16/12).

Beberapa Aksi Protes yang Dilakukan Mahasiswa di India

Banyak mahasiswa di berbagai kota di India mendukung para demonstran di Universitas Jamia Millia Islamia.

Di Kota Aligarh, yang terletak di bagian utara, ratusan mahasiswa Universitas Muslim Aligarh bentrok dengan polisi, yang menyebabkan pihak universitas menutup kampus sampai 5 Januari.

Demonstrasi massal juga berlangsung di Kota Hyderabad di bagian selatan, ketika para mahasiswa Universitas Maulana Azad Urdu mengusung spanduk dan poster menentang aksi polisi di Delhi.

Adapun di Mumbai, para mahasiswa Institut Ilmu Sosial Tata mengadakan acara penyalaan obor.

Para mahasiswa di kota-kota lain, seperti Varanasi dan Kolkata, menggelar pawai sebagai bentuk solidaritas.

Suasana aksi protes warga India menentang UU Kewarganegaraan yang dinilai diskriminatif terhadap Islam. (Dok. Istimewa)
Suasana aksi protes warga India menentang UU Kewarganegaraan yang dinilai diskriminatif terhadap Islam. (Dok. Istimewa)

6 Fakta UU Kewarganegaraan India yang Kontroversi

  1. UU itu menawarkan para migran asal Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan, yang masuk ke India tanpa dokumen resmi, menjadi warga negara India.
  2. Pemerintah India, yang perdana menteri dan menteri-menterinya berasal dari Partai Hindu nasionalis Bharatiya Janata, berargumen UU itu mengakomodasi mereka yang kabur akibat persekusi agama, seperti dilaporkan wartawan BBC Anbarasan Ethirajan dari Delhi.
  3. Akan tetapi, sebagian kalangan menuding UU itu adalah bagian dari agenda pemerintah untuk memarjinalkan umat Muslim sehingga melanggar prinsip-prinsip sekular di dalam konstitusi India.
  4. Awal pekan lalu, badan Hak Asasi Manusia PBB menyuarakan keprihatinan atas UU Kewarganegaraan yang dinilai diskriminatif.
  5. Sementara itu, banyak warga daerah Assam berargumen bahwa orang-orang asing akan mengambil alih tanah dan pekerjaan mereka dan pada akhirnya mendominasi budaya dan identitas mereka.
  6. Pemerintah membantah bersikap bias agama seraya mengatakan umat Muslim tidak tercakup dalam UU baru ini karena mereka bukanlah kaum minoritas sehingga tidak memerlukan perlindungan India.

Renungan bagi Umat Muslim

Nabi Muhammad SAW adalah rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh umat manusia. Ajaran Islam disebarkan secara damai melalui tauladan yang ada pada kepribadian Beliau. Adapun perperangan yang terjadi adalah bentuk jihad dalam mempertahankan hak demi membela diri, keluarga, dan umat muslim yang tengah terancam keselamatan dirinya. Islam itu bersaudara, dan Nabi Muhammad SAW juga menyayangi musuh-musuhnya, sebagai sesama makhluk ciptaan Allah SWT.

Mungkin akan jadi pertanyaan bagi kita semua, kenapa orang-orang non muslim sangat membenci umat Islam, dan menindasnya ketika jadi minoritas. Sementara kita umat muslim selalu berusaha untuk menghargai hak-hak umat agama yang lain, meskipun mereka minoritas di tengah kita.

Penindasan demi penindasan terhadap umat Islam dan penistaan terhadap ajaran Islam tengah marak terjadi di dunia saat ini, namun bukan berarti kita harus punya perilaku yang sama dengan mereka.

Jika kita renungkan, sebenarnya kejadian-kejadian tersebut adalah pintu surga yang nyata bagi kita di dunia ini, yang tengah dibuka oleh Allah SWT, untuk dimasuki oleh umat Islam pada akhir zaman ini, melalui jihad fisabilillah, dengan membela agama-Nya dan menegakkan syariat-Nya.

Salah satu bentuk jihad yang dapat kita lakukan adalah dengan memberikan sebagian harta kita untuk perjuangan saudara-saudara kita melalui badan-badan terpercaya yang amanah menyalurkan bantuan kita tersebut untuk digunakan bagi keperluan saudara-saudara muslim kita yang tengah mendapat ujian.

Bagaimanapun, umat Islam akan terus ditindas oleh orang-orang non muslim ketika mereka telah berkuasa. Apa karena mereka takut kejayaan Islam bangkit dan zaman pun akan segera berakhir? Tapi umat Islam punya kewajiban untuk selalu menegakkan syariat Islam, hingga pada hari terakhir bumi ini. (*)

Previous

Next

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *